Anak Driver Ojol Kuliah di UK, Belajar di KRL Demi Beasiswa

Jakarta - Kegigihan untuk belajar diiringi doa orangtua mengantarkan Nisa Sri Wahyuni meraih pendidikan tinggi hingga ke negeri orang. Ia berhasil membuktikan, latar belakang pendidikan orangtuanya yang hanya tamatan SD bukan penghalang baginya untuk berprestasi.
Sosok Nisa mendadak viral setelah perempuan 27 tahun itu berbagi cerita di jejaring karier LinkedIn baru-baru ini tentang pencapaian akademisnya yang mustahil terwujud tanpa dukungan penuh orangtua meski kondisi ekonomi mereka yang serba terbatas. Unggahan tersebut disertai foto dirinya bersama sang ayah yang berjaket ojek online.

Nisa lahir di Jakarta pada 17 Juni 1995 dari keluarga yang sangat sederhana. Orangtuanya, Sukatno dan Sunarsih, merupakan perantau dari Jawa Timur. Sukatno berasal dari Pacitan, sementara Sunarsih orang Nganjuk.


Baca juga: Keren! Pria Selesaikan Kuliah S-3 Sambil Jadi Driver Antar Makanan Online
Diceritakan Nisa kepada Wolipop baru-baru ini, ketika orangtuanya hijrah ke Jakarta, usia mereka masih sangat belia. Kala itu, ibu dan bapaknya belum saling mengenal sampai akhirnya bertemu dan memutuskan untuk berkeluarga.

"Salah satu harapannya jika diberi keturunan, anak-anak harus memiliki pendidikan yang lebih baik dari mereka," ungkap anak tengah dari tiga bersaudari ini.

Diceritakan Nisa kepada Wolipop baru-baru ini, ketika orangtuanya hijrah ke Jakarta, usia mereka masih sangat belia. Kala itu, ibu dan bapaknya belum saling mengenal sampai akhirnya bertemu dan memutuskan untuk berkeluarga.

"Salah satu harapannya jika diberi keturunan, anak-anak harus memiliki pendidikan yang lebih baik dari mereka," ungkap anak tengah dari tiga bersaudari ini.

Ia pun mengamini harapan orangtuanya itu sebagai sebuah amanah. Apalagi melihat orangtuanya banting tulang demi menyambung hidup sekaligus agar anak-anaknya bisa bersekolah semakin memotivasi Nisa untuk belajar dengan tekun.

Sebelum menjadi supir ojol, Sukatno bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah sekolah swasta selama puluhan tahun. Dulu pada masa awal merantau, ia hanyalah seorang tukang bersih-bersih halaman.

Baca juga: Kisah Perjuangan Polwan yang Diterima di 7 Universitas di Inggris
Untuk menambah pemasukan keluarga, Sunarsi pun menjadi asisten rumah tangga (ART) di rumah tempat mereka menumpang. Mereka tinggal di sana sampai Nisa duduk di bangku SMP dan pindah ke rumah kecil yang dibeli dari hasil menabung.

"Saking mereka pedulinya sama pendidikan, Bapak dan cari rumah yang dekat sekolah untuk memudahkan aku belajar," kata Nisa.

Prestasi Nisa mulai terlihat saat SMA. Oleh karena itu, guru BK dan teman-temannya memotivasi dia untuk kuliah di Universitas Indonesia (UI) lewat jalur beasiswa. Orangtuanya pun mendukung.

Alhasil, ia memberanikan diri untuk mendaftar meski sempat ragu karena merasa lemah dalam berbahasa Inggris yang merupakan salah satu syarat mendapat beasiswa. Sadar bahwa mempersiapkan berkas beasiswa memakan biaya yang tak sedikit, ia pun mencari 'modal' dengan berjualan kue di sekolah.

"Aku masih ingat banget, aku dan Ibu bikin bola-bola coklat buat dijual di sekolah. Satunya berharga Rp 500. Lumayan bisa laku Rp 50 ribu," kenangnya.

Singkat cerita, beasiswa UI berhasil diraihnya pada 2013 dengan pilihan Fakultas Kesehatan Masyarakat. Sebenarnya, Nisa ingin kuliah kedokteran tapi niat tersebut harus dikubur karena ada pertimbangan uang praktik yang terlalu mahal.

Meski tak sesuai pilihannya, ia tetap bersyukur dengan memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar secara tekun. Sembari kuliah, Nisa juga kerja part-time demi menambah uang jajan.

Hari-harinya juga disibukkan dengan penelitian. Ditambah lagi, ia dipercayakan sebagai asisten dosen. Di tengah padatnya kegiatan, Nisa tetap rajin mengikuti berbagai kompetisi, konferensi dan program tukar pelajar internasional yang memberinya pengalaman ke luar negeri untuk kali pertama terlepas dari kemampuan berbahasa Inggris yang menurutnya pas-pasan.

"Aku tipikal orang yang kalau dihadapkan pada masalah, jadinya tertantang untuk mencari solusinya," ujarnya. Walau sibuk di sana-sini, ia berhasil merampungkan studinya hanya dalam kurun 3,5 tahun dan lulus dengan status cumlaud pada 2017.

Lulus kuliah, ia sempat bekerja sebagai tenaga kesehatan di sebuah rumah sakit ketika akhirnya berniat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Kali ini, kampus luar negeri menjadi incarannya, tentu masuk lewat pintu beasiswa.

Nisa paham bahwa kekurangannya dalam berbahasa Inggris bisa menggagalkan impian tersebut. Oleh karena itu, ia secara serius meningkatkan kemampuan tersebut. Pagi-siang, lalu sore-malam, buku panduan berbahasa Inggris selalu dibukanya selagi ada kesempatan.

Baca artikel wolipop, "Cerita Lengkap Anak Driver Ojol Kuliah di UK, Belajar di KRL Demi Beasiswa" selengkapnya https://wolipop.detik.com/inspiring-people/d-5954522/cerita-lengkap-anak-driver-ojol-kuliah-di-uk-belajar-di-krl-demi-beasiswa.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Baca artikel wolipop, "Cerita Lengkap Anak Driver Ojol Kuliah di UK, Belajar di KRL Demi Beasiswa" selengkapnya https://wolipop.detik.com/inspiring-people/d-5954522/cerita-lengkap-anak-driver-ojol-kuliah-di-uk-belajar-di-krl-demi-beasiswa.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karier umum

Mantan Istri Ustadz Loh pindah Agama